Selasa, 19 Oktober 2010

per-adab-an adalah sebuah kurva polinom

suatu hari ada seorang teman dalam sebuah perkumpulan berbasis studi masyarakat memberikan pandanganya tentang peradaban. "kita adalah para akademisi. kitalah tonggak peadaban." cetusnya penuh semangat. dalam perkumpulan itu pula saya mengenal beberapa akademisi yang sangat skeptis dengan perkembangan peradaban. "peradaban yang maju adalah peradaban yang berpegang pada nilai-nilai kebenaran filsafat dan sains sepenuhnya tanpa adalagi intervensi dari kepercayaan manapun." kata teman saya yang skeptis. beberapa kelompoklagi mempunyai argumen yang lebih berani. "peradaban yang kuat adalah peradaban yang mengenal,  mengerti, dan melaksanakan suatu sistem kemasyarakatan yang obyektif tanpa ada agama, doktrinasi, atau dengan kata lain peradaban yang maju tidak mengenal sistem ketuhanan." sekilas kawan-kawan saya ini terlihat sedikit ekstrim. saya melakukan beberapa induksi untuk melihat penyebab ke-ekstrim-an pemikiran para akademisi perkumpulan kemasyarakatan ini. para akademisi ini merupakan orang-orang yang datang dari kampung halaman mereka, membawa panji-panji harga diri kampung mereka, bermodalkan sebungkus baju dan perbekalan seadanya demi satu tujuan klise, memajukan kampung mereka sesuai harapan warga mereka. atas alasan-alasan klise itu sang akademisi memperdalam tingkat ilegensia mereka, mengisi otak-otak kecil mereka dengan pembuktian prinsip operasi integral, memahami dinamika ikatan atom yang tak kasat mata, atau mencoba memperkirakan umur suatu benda angkasa di gugusan orion yang belum pernah mereka sentuh, rasa, dan bayangkan. tingkat keber-adab-an mereka menurut kerangka inersia orang awam mencapai kasta brahmana. namun selayaknya kurva polinom pangkat 2. setelah tingkat keber-adab-an mencapai titik maksimum global, kurva akan turun mencapai nilai definit negatif. lagi-lagi menurut orang awam, kini mereka mulai memasuki tingkat yang memprihatinkan. "sekarang meraka sudah tidak percaya tuhan, mereka kafir dan pasti masuk neraka." teriak orang awam  mayoritas. sebuah logical fallacies yang tidak adil membawa harga mereka dimata awam merosot tajam layaknya nilai saham exxon yang kehabisan minyak karena pipa-pipa penyedot yang sudah kering. lain hal bagi para akademisi. mereka memandang dirinya telah lebih berdikari dari pada dulu mereka memandang harga mereka naik tanpa limit. sebuah integral dari kurva polinom , membentuk sebuah bentuk kurva yang naik tanpa batas."aku adalah orang yang baru. aku bukanlah budak ilmu pengetahuan, kini akaulah tuan mereka, kemanapun, kapan pun dan dengan cara apapun  budak-budak itu akan melayaniku." kata mereka dengan bangga. kini mereka mencoba membaca dinamika masyarakat. dengan kemampuan filsafat mereka membaca, menyadari, menyimpulkan segala persoalan. itulah sebab-sebab ke-ekstrim-an mereka. bagi saya ini adalah halaman. seni yang teekam dala sebuah halaman memberi kita waktu sejenak untuk berfikir. per-adab-an adalah sebuah kurva polinom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar